EMBUNG: SOLUSI MENJAGA KETERSEDIAAN AIR UNTUK PERTANIAN

 

Ujian Tengah Semester Psikologi Lingkungan Semester Genap 2020/2021

Dosen Pengampu: Arundati Shinta

Yuli Priansah

2018011161

Fakultas Psikologi

Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa 

Yogyakarta 


Foto:  Embung di Desa Sidamulya Kabupaten Kuningan

 

Seperti yang kita tahu, air bukan hanya benda mati untuk kita minum dan membersihkan diri. Perannya jauh lebih besar dari yang kita sadari, pun karenanya semua makhluk bisa bertahan hidup tanpa terkecuali. Makanan pokok yang kita makan berasal dari lahan pertanian yang tumbuh dengan baik karena air, oleh karena itu air menjadi salah satu sumber kehidupan utama yang hingga kini harus dilestarikan sepenuh hati. Tidak seperti musim hujan di mana air menjadi berlimpah, pada musim kemarau panjang jumlah atau debit air menyusut dan berkurang, sehingga mengakibatkan kekurangan pasokan air untuk berbagai keperluan dan menyebabkan kekeringan. Dampak ini secara tidak langsung terasa secara beruntun mulai dari petani hingga kita sebagai konsumen.

Berbagai macam upaya untuk mengembalikan kondisi sumber daya air seperti semula harus dilakukan, paling tidak dapat memperlambat laju kerusakannya. Upaya yang dilakukan bisa dengan metode struktural dan non struktural, metode struktural seperti pengelolaan jaringan irigasi dan air baku, sedangkan metode non struktural seperti penghijauan dan pengaturan tata guna lahan.

Salah satu Kabupaten yang rata-rata penduduknya bermata pencaharian sebagai petani adalah Kabupaten Kuningan. Topografi Kabupaten Kuningan cukup bervariasi, mulai dari dataran rendah sampai dengan pegunungan dengan puncak tertinggi berada di gunung Ciremai, serta data dari ketenagakerjaan Kabupaten Kuningan tahun 2016 yang menyatakan bahwa banyak-nya masyarakat yang bekerja sebagai petani adalah 89.975 (laki-laki) dan 62.530 (perempuan).  Mengingat banyak-nya lahan pertanian tentu membutuhkan saluran irigasi yang baik, Kabupaten Kuningan sendiri memiliki beberapa alternatif untuk irigasi seperti; situ/embung, bendung tetap, bendung gerak, pompa, dan pengambilan bebas (bappeda.jabarprov.go.id).

Di Desa Sidamulya Kabupaten Kuningan mengandalkan embung untuk saluran irigasinya, meskipun di beberapa titik juga melakukan pengambilan bebas. Apa itu embung? Embung adalah bangunan konservasi air berbentuk cekungan di sungai atau aliran air berupa urugan tanah, urugan batu, beton dan/atau pasangan batu yang dapat menahan dan menampung air untuk berbagai keperluan. Wiradnyana (dalam Bria (2017) mengemukakan bahwa agar sistem dari tampungan air seperti embung berkelanjutan, maka partisipasi dari masyarakat pengguna air dalam operasi dan pemeliharaan sangat diperlukan. Terdapat pemeliharaan pencegahan dan perbaikan yang bisa dilakukan. Dalam pencegahan, pemeliharaan dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan dan kemunduran fungsi bangunan, sedangkan dalam pemeliharaan perbaikan bertujuan untuk mengembalikan kondisi dan fungsi bangunan seperti semula.

Berbagai cara akan selalu ada untuk mengatasi kekurangan air, yang diperlukan hanyalah rasa peka, gotong royong dan mau bekerja sama dari masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Tidak cukup hanya sampai cara itu dibangun dan diwujudkan, akan tetapi melibatkan pemeliharaan seksama agar terus berkelanjutan.


Daftar Pustaka

Bappeda.jabarprov.go.id. 2019. Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Periode 2018-2023 Kabupaten Kuningan. http://bappeda.jabarprov.go.id/wp-content/uploads/2019/01/Ranwal-RPJMD-2018-2023-Kab.-Kuningan.pdf. Di akses tanggal 23 maret 2021

Bria, Melchior, dkk. 2017. Analisis Kriteria untuk Perencanaan Program Pemeliharaan Embung Irigasi (Studi Kasus: Embung Haliwen dan Haekrit Kabupaten Belu). Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan. Vol. 19 no. 2. Hal. 83-89



 

0 Comments