AUROSAL APPROACH

 

Arsy Ilyasanada

2019011046

Dosen : Dr. Arundati Shinta. M.A

Essay 4

Teori Arousal atau pembangkit merupakan keadaan emosi seseorang yang berhubungan dengan gairah, nafsu, semangat, motivasi, atau kebangkitan. Arousal dapat bergerak dari kondisi yang penuh semangat, gairah, hingga pada kondisi sebaliknya yakni tidak semangat, tidak bergairah sama sekali. Emosi-emosi seperti ini dapat berpengaruh pada kinerja seseorang dalam menyelesaikan tugas-tugas kognitif contohnya mengingat, belajar, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah. Teori Arousal dalam Psikologi Lingkungan berkaitan dengan kinerja seseorang misalnya tingkat arousal yang rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah, dan makin tinggi level arousalnya, akan menghasilkan kineja yang tinggi pula (Sarwonb, 1992). Sedangkan menurut (Heeb,1972) yaitu meningkatnya atau berkurangnya kegiatan di otak sebagai akibat dari proses fatal tertentu. Perubahan diotak sebagai variable perantara (intervining variable) antara rangsang dengan tingkah laku yang terjadi, setelahnya ada peningkatan kegiatan di otak maka dapat disimpulkan bahwa akan terjadi perilaku tertentu.

Dengan membangkitkan rangsangan pada penginderaan, dapat meningkatkan kinerja pada tugas-tugas sederhana. Namun, itu dapat menganggu dan mengurangi kinerja pada tugas-tugas yang kompleks. Contohnya suara music di dalam mobil dapat menggairahkan pengemudi atau peumpang, tetapi suara music yang sama dapat mengalihkan perhatian atau konsentrasi seseorang yang sedang memecahkan masalah yang kompleks. (Sarwon, Veitch, dan Arkkelin, 1995)

Kondisi keterbangkitan bagian dari emosi yang dilakukan untuk meningkatkan aktivitas dari sel-sel otak dalam cerebal korteks, system limbik, dan hypothalamus. Aktivitas sel-sel di area otak secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh serabut syaraf yang menyebar dari area inti otak yang terlibat dalam pegaturan emosi. Ketika aktivitas serabut-serabut dari formasi retikuler harus naik untuk mencapai daerah otak yang lebih tinggi terlibat emosi, pengaktifan bagian dari formasi retikuler disebut ARAS (ascending reticuler activating system).

Yerkes & Dodson telah menguji hubungan antara arousal dengan kinerja seseorang dalam suatu tugas. Mereka memiliki asumsi, yaitu:

·         Hubungan antara tingkat tekanan, semangat, atau keadaan termotivasi dengan kinerja dalam tugas adalah berbentuk kurva “U” terbalik. kinerja optimal dapat terjadi apabila semangat (arousal) berada pada tingkat yang sedang atau moderat.

·         Tinggi tingkat optimal dari semangat atau gairah berhubungan secara terbalik dengan tingkat kesulitan tugas.

·         Pada pekerjaan yang rumit dengan batas peningkatan arousal tertentu, maka hasil kerjanya akan menurun

·         Makin tinggi arousalnya, maka makin tinggi hasil kerjanya

 

0 Comments